Periode ini ditandai dengan fluktuasi tajam. Tahun 2015 mengalami penurunan curah hujan drastis di bulan-bulan kemarau (Agustus–September) karena pengaruh El Niño kuat, sementara 2016 mencatat curah hujan yang lebih merata sepanjang tahun.
| Bulan | Rata-rata (mm) | Kategori | Tren 10 Tahun | | :--- | :--- | :--- | :--- | | Januari | 350 | Sangat Tinggi | Meningkat (+5%) | | Februari | 310 | Tinggi | Stabil | | Maret | 290 | Tinggi | Menurun (-2%) | | April | 250 | Sedang | Stabil | | Mei | 180 | Sedang | Menurun drastis (-10%) | | Juni | 120 | Rendah | Stabil | | Juli | 90 | Sangat Rendah | Stabil | | Agustus | 85 | Sangat Rendah | Meningkat (+8%) | | September | 110 | Rendah | Meningkat (+12%) | | Oktober | 180 | Sedang | Meningkat (+7%) | | November | 270 | Tinggi | Meningkat (+6%) | | Desember | 340 | Sangat Tinggi | Meningkat (+4%) | data curah hujan bulanan 10 tahun terakhir
Memahami pola (periode 2014–2024) sangat krusial bagi berbagai sektor di Indonesia, mulai dari pertanian, mitigasi bencana, hingga perencanaan infrastruktur . Selama satu dekade terakhir, Indonesia mengalami fluktuasi intensitas hujan yang signifikan akibat fenomena iklim global seperti El Niño dan La Niña. Periode ini ditandai dengan fluktuasi tajam
Data runtun waktu (time series) selama satu dekade ini bukan sekadar kumpulan angka di lembar tabel. Ia adalah peta masa lalu yang dapat digunakan untuk memprediksi masa depan. Artikel ini akan mengulas secara mendalam mengapa data 10 tahun terakhir begitu vital, bagaimana cara menganalisisnya, dan implikasinya bagi berbagai sektor kehidupan di Indonesia. Artikel ini akan mengulas secara mendalam mengapa data
Tahun 2019 merupakan salah satu periode terkering, sedangkan tahun 2020 mencatat peningkatan curah hujan yang signifikan dengan puncak di awal tahun (Januari–Februari).